Logo Klinik Lamina Pain and Spine Center

HNP Cervical dapat Diatasi dengan Endoskopi Servikal (Pertama di Indonesia)

HNP Cervical dapat Diatasi dengan Endoskopi Servikal

Kata kunci terkait :

  • servikal (100)
  • hnp cervical adalah (80)
  • hnp cervical (300)
  • hnp servikal (30)

Hnp Cervical adalah jepitan saraf pada leher atau sering dikenal dengan sebutan saraf terjepit di leher. Dalam 2 decade terakhir, pengobatan kasus herniasi bantalan sendi tulang belakang terutama di daerah servikal (Hnp Cervical) terus mengalami perkembangan, diantaranya Endoskopi servikal. Diawali dengan adanya teknik bedah terbuka. Kemudian dilanjutkan dengan Anterior Cervical Discectomy and Fusion (ACDF) yang sampai saat ini masih dilakukan dokter di banyak belahan dunia termasuk Indonesia. Sayangnya teknik ini memiliki beberapa komplikasi yang dapat terjadi. Seperti disfagia, hematoma, unilateral recurrent laryngeal nerve (RLN) palsy, kebocoran cairan serebrospinal (CSF), kebocoran esophagus, perburukan gejala radiculopathy, kegagalan pemasangan implant dan lain sebagianya.


Perkembangan Endoscopy PECD Dalam Mengatasi HNP Cervical

endoskopi servikalAtas pengalaman klinis ini selanjutnya para pakar kesehatan dunia mencoba mengembangkan teknik bedah baru yang saat ini dikenal sebagai percutaneous endoscopy. Baru tahun 1990, Tajima dan kawan-kawan memperkenalkan sebuah teknik baru yang disebut Percutaneous Endoscopic Cervical Discectomy (PECD) atau endoskopi servikal dalam menangani masalah Hnp Cervical. “Teknik PECD, menganut dua pendekatan atau teknik yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang). Keduanya bertujuan mengilangkan herniasi bantalan sendi tulang belakang yang menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang. Dengan bantuan penglihatan langsung melalui kamera endoskopi yang ditampilkan pada layar,” jelas dr. Mahdian Nur Nasution SpBS, dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, Jakarta.

Keuntungan Endoskopi Servikal dalam Mengatasi Hnp Servikal

Selain keuntungan seperti sayatan yang minimal hanya 4 mm, dapat dilakukan melalui anastesi lokal saja. PECD memberikan harapan yang lebih baik dibandingkan teknik ACDF, total disc replacement (TDR) hingga posterior microdiscectomy pada pengobatan HNP Cervical. “Waktu operasi pasien juga menjadi lebih singkat, pemulihan cepat, kerusakan jaringan lebih minimal,” jelas dr. Mahdian.

Meski ada sejak tahun 1990 an, teknologi ini belum bisa diaplikasikan dokter-dokter di Indonesia, dengan beberapa pertimbangan. “Masalah mahalnya alat yang harus di beli dokter atau rumah sakit, menjadi masalah yang harus menjadi perhatian bersama,” jelas dr. Mahdian.

Dimulai dengan Endoscopy PELD

Setelah sebelumnya berhasil melakukan tindakan Endoskopi PELD lebih dari 1000 pasien Hnp termasuk Hnp Cervical di Indonesia, yang dimulainya pada pertengahan tahun 2017. Dokter Mahdian menjadi satu-satunya dokter Indonesia yang melakukan tindakan Endoskopi servikal pada pasien pertama, pada tanggal 8 November 2018, di RS Meilia Cibubur, Depok.

Artikel Terkait