Logo Klinik Lamina Pain and Spine Center
Kenali Perbedaan Nyeri Pinggang Biasa dan Saraf Kejepit - Klinik Nyeri dan Tulang Belakang

Kenali Perbedaan Nyeri Pinggang Biasa dan Saraf Kejepit

Nyeri pinggang adalah keluhan umum yang sering dialami oleh banyak orang. Namun, tidak semua nyeri pinggang memiliki penyebab yang sama. Dua kondisi yang seringkali membingungkan adalah nyeri pinggang biasa dan saraf terjepit. Terkadang, rasa sakit yang muncul bisa menjadi kronis dan merupakan gejala saraf kejepit. Nah, untuk mengetahui perbedaannya,  yuk kita bahas lebih lanjut di artikel berikut.

Nyeri Pinggang Biasa

  • Penyebab: Nyeri biasanya dapat terjadi karena berbagai faktor, termasuk cedera otot atau ligamen, postur yang buruk, gerakan yang berlebihan, atau stres pada tulang belakang. Penyakit seperti osteoarthritis atau saraf kejepit juga dapat menjadi penyebab nyeri pinggang.
  • Gejala: Gejala nyeri biasanya dapat bervariasi, tetapi biasanya termasuk nyeri atau ketidaknyamanan di daerah pinggang atau area sekitarnya. Nyeri ini mungkin terasa tumpul atau tajam, dan bisa bersifat kronis atau timbul secara tiba-tiba.
  • Pengobatan: Pengobatan nyeri pinggang biasa melibatkan perawatan diri seperti istirahat, pemberian kompres dingin atau panas, dan penggunaan obat pereda nyeri yang terjual bebas. Latihan fisik teratur, terapi fisik, atau pijatan juga dapat membantu mengurangi nyeri dan memperbaiki kekuatan otot.

Saraf Terjepit

  • Penyebab: Saraf terjepit terjadi ketika saraf tulang belakang mendapat tekanan berlebih oleh jaringan di sekitarnya, seperti otot, ligamen, atau diskus spinal yang terdorong keluar dari tempatnya. Hal ini dapat terjadi akibat penyempitan tulang belakang (stenosis spinal), radang sendi dan kelainan tulang belakang lainnya, seperti skoliosis ataupun kifosis.
  • Gejala: Gejala saraf terjepit dapat meliputi nyeri yang menjalar dari punggung bawah ke kaki, kesemutan, mati rasa, atau kelemahan otot di daerah yang terkena terjepit. Gejala ini sering kali hanya terjadi di satu sisi tubuh.
  • Pengobatan: Pada tahap awal dokter umumnya akan merekomendasikan pengggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) untuk mengurangi peradangan dan nyeri. Selain itu, jika gejala tak kunjung membaik, maka prosedur lain diperlukan, seperti tindakan minimal invasif seperti radiofrekuensi ablasi, laser PLDD, dan endoskopi tulang belakang.

Apabila Anda mengalami keluhan nyeri pinggang yang tak kunjung membaik, segeralah periksakan diri ke dokter di Lamina Pain and Spine Center. Dokter akan melakukan pemeriksaan dan memberikan diagnosa serta penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda. Untuk berkonsultasi, hubungi nomor 021-7919-6999 atau chat melalui whatsapp di 0811-1443-599. Lamina juga memiliki layanan telekonsultasi atau konsultasi online langsung dengan dokter, untuk memudahkan Anda yang terkendala jarak dan tidak bisa langsung datang ke klinik. 

Baca juga: Awas, Sering Kesemutan Bisa Jadi Gejala Saraf Terjepit

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa Perbedaan Nyeri Pinggang Biasa dan Saraf Terjepit?

Gejala yang membedakan antara nyeri pinggang biasa dan saraf terjepit diantaranya adalah jika nyeri biasa akan terasa tumpul atau tajam, dan bisa bersifat kronis atau timbul secara tiba-tiba. Sedangkan gejala saraf terjepit dapat meliputi nyeri yang menjalar dari punggung bawah ke kaki, kesemutan, mati rasa, atau kelemahan otot di daerah yang terkena terjepit. Gejala ini sering kali hanya terjadi di satu sisi tubuh.

Bagaimana Pengobatan untuk Nyeri Pinggang?

Pengobatan nyeri pinggang biasa melibatkan perawatan diri seperti istirahat, pemberian kompres dingin atau panas, dan penggunaan obat pereda nyeri yang terjual bebas. Latihan fisik teratur, terapi fisik, atau pijatan juga dapat membantu mengurangi nyeri dan memperbaiki kekuatan otot.

Bagaimana Pengobatan Jika Mengalami Saraf Terjepit??

Pada tahap awal dokter umumnya akan merekomendasikan pengggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) untuk mengurangi peradangan dan nyeri. Selain itu, jika gejala tak kunjung membaik, maka prosedur lain diperlukan, seperti tindakan minimal invasif seperti radiofrekuensi ablasi, laser PLDD, dan endoskopi tulang belakang

Artikel ini ditinjau oleh: dr. Yuti Purnamasari

Artikel Terkait