Skoliosis yang terjadi biasanya ringan, namun dapat berkembang menjadi lebih parah seiring pertambahan usia, khususnya pada wanita. Gejala skoliosis dapat berbeda, sesuai tingkat keparahan kondisinya, diantaranya;

  1. Tubuh penderita skoliosis condong ke satu sisi
  2. Salah satu bahu lebih tinggi
  3. Salah satu tulang belikat tampak lebih menonjol
  4. Tinggi pinggang tidak rata

Penyebab Skoliosis

Sebagian besar kasus skoliosis tidak ditemukan penyebabnya (idiopatik). Namun, terdapat beberapa kondisi yang dapat memicu terjadinya skoliosis, yaitu:

  • Cedera tulang belakang.
  • Infeksi tulang belakang.
  • Bantalan dan sendi tulang belakang yang mulai aus akibat usia (skoliosis degeneratif).
  • Bawaan lahir (kongenital).
  • Gangguan saraf dan otot (neuromuskular), misalnya penyakit distrofi otot atau cerebral palsy.

Diagnosis

Diagnosis skoliosis dilakukan oleh dokter dimulai dengan menanyakan gejala yang dialami pasien dan penyakit yang pernah dialami. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik.

Dalam pemeriksaan fisik, dokter akan meminta pasien untuk berdiri atau membungkuk. Dokter juga akan memeriksa kondisi saraf untuk mengetahui apakah ada otot yang lemah, kaku, atau menunjukkan refleks yang abnormal.

Selain pemeriksaan fisik, doter juga dapat melakukan pemeriksaan foto Rontgen dan CT scan untuk memastikan adanya skoliosis dan mengetahui tingkat keparahan lengkungan tulang belakang. Jika dokter mencurigai kelainan pada tulang belakang disebabkan oleh hal lain, maka dokter dapat melakukan pemindaian dengan MRI.

Terapi Skoliosis

Penanganan dilakukan berdasarkan tingkat keparahan, usia, serta kondisi lengkungan tulang belakang. Pada anak-anak, pengobatan belum diperlukan untuk skoliosis yang ringan, mengingat tulang belakangnya masih dapat kembali lurus saat usia anak-anak bertambah. Meski demikian, perkembangan penyakit perlu terus diamati oleh dokter.

Dengan pemeriksaan rutin ke dokter, dapat diketahui perkembangan kondisi tulang yang melengkung. Dokter juga bisa melakukan pemeriksaan foto Rontgen untuk memantaunya.

Pada skoliosis yang lebih parah, anak akan diminta untuk mengenakan penyangga tulang belakang. Penyangga ini tidak dapat meluruskan tulang kembali, namun dapat mencegah lengkungan tulang belakang bertambah parah.

Penyangga biasanya terbuat dari plastik yang dikenakan di bawah lengan, sekitar tulang rusuk, serta bagian bawah punggung dan pinggul. Bentuknya disesuaikan dengan bentuk tubuh sehingga hampir tidak terlihat jika mengenakan pakaian.

Agar lebih efektif, penyangga ini perlu dikenakan sepanjang hari, kecuali saat anak berolahraga. Pemakaian penyangga dapat dihentikan saat pertumbuhan tulang belakang berhenti, yaitu:

  • Dua tahun setelah anak perempuan mulai mengalami menstruasi.
  • Saat kumis atau jenggot pada wajah anak laki-laki mulai tumbuh.
  • Saat tidak ada penambahan tinggi badan lagi.

Untuk penderita dewasa, dimana sering menimbulkan keluhan nyeri punggung, terapi yang dilakukan dokter dapat berupa:

  1. Pemberian obat pereda nyeri. Untuk meredakan peradangan dan nyeri, dokter akan memberikan obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen.
  2. Suntik kortikosteroid di rongga tulang belakang. Suntikan kortikosteroid diberikan jika penderita mengalami tekanan pada saraf tulang belakang, sehingga menimbulkan rasa nyeri, kaku, atau kesemutan. Suntikan ini hanya bekerja dalam jangka waktu yang pendek, yaitu sekitar beberapa minggu atau beberapa bulan.
  3. Operasi. Untuk kasus skoliosis yang parah, dokter bedah saraf dapat melakukan operasi.

Jalan Warung Jati Barat No.34, Kelurahan Kalibata, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, 12740

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-7919-6999

marketingklinik@gmail.com

Book Online

Book Online

Appointment Now

Call 02179196999